Guru Tarekat

May 14th, 2009 by ryu-nuerosurgeon

Pagi tadi saya membaca beberapa harian on line yang isinya semua hampir seragam. Partai yang sedang sibuk mencari kawan berkoalisi, berita cinta segitiga yang melibatkan seorang caddy golf berujung pembunuhan yang sudah mulai membosankan. Tapi entah mengapa saya jadi tertarik membaca berita seorang guru tidak tetap yang terpaksa berurusan dengan aparat kepolisian karena dituduh membocorkan soal ujian nasional tingkat sekolah menengah umum. Di halaman yang sama ada juga berita seorang guru adu jotos dengan muridnya!

Berita itu membawa ingatan saya kepada Pak Irva’i -wali kelas saya semasa SMA- yang meninggal bulan lalu karena sakit. Dia ini bagi saya adalah seorang guru yang lengkap, dalam artian saya pernah mendapat teguran, pujian, hadiah, hingga skorsing darinya. Pendeknya guru bahasa Inggris ini –meskipun saya sering silang pendapat dengannya- merupakan gambaran yang cukup ideal bagi saya untuk seorang guru. Dia sangat sederhana tapi sering menjengkelkan dengan kesederhanaannya itu. Dulu saya sering bertanya apakah seorang guru itu harus sederhana? Apa alasannya? Karena bagi saya waktu itu, guru adalah sebuah pekerjaan yang tak ubahnya seperti pekerjaan yang lain.Namun dalam perjalanannya, pengertian akan arti seorang guru dalam benak saya berubah dari waktu ke waktu.

Dalam ilmu othak-athik gathuk-nya orang Jawa, suku kata gu dari kata guru itu berarti digugu dan ru, artinya ditiru. Barangkali benar, guru memang digugu (dianut) dan ditiru, diteladani para murid. Dari sana, barangkali Ki Hajar Dewantara merumuskan peran guru yang terkenal: ing ngarso asung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani itu. Barangkali dari sana pula pepatah kita “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” itu memperoleh inspirasinya.

Di masyarakat Jawa, guru tidak harus merupakan sebuah sosok pribadi, melainkan bisa juga cuma berupa citra atau sosok bayangan. Dalam sebuah lakon disebutkan, ketika Resi Durna sedang mengajar para satria Pandawa dan Astina memanah, seorang satria lain datang hendak berguru memanah kepada resi tersebut.

“Tidak bisa, ki sanak,” sahut Begawan Durna. “Saya sudah teken kontrak untuk hanya mengajar para satria ini, dan tak akan lagi pemah menerima murid lain.”

Satria itu kemudian pergi dengan rasa kecewa. Namun, tekadnya untuk berguru kepada Begawan Dura tetap membara. Citra Durna sebagai guru sakti tak ada duanya sangat mempengaruhinya.

Syahdan, sang satria pun kemudian membuat patung Pandita Durna. Ia lalu mulai belajar memanah, sambil membayangkan bahwa ia sedang benar-benar belajar kepada pandita sakti itu. Dan konon, kehebatan satria ini tak kalah dari para murid yang belajar dari Durna secara langsung.

Mudah diduga, andaikata Durna menerimanya sebagai murid, pasti satria itu bakal menjadi murid yang taat kepada guru. Apa pun perintah sang guru, murid itu pasti akan mematuhinya. Dengan kata lain, murid itu pasti akan mampu memanggul tugasnya sebagai murid yang harus senantiasa membuktikan bahwa guru memang seyogianya digugu Ian ditiru.

Tapi, masihkah sekarang ini guru memperoleh kehormatan sebagai orang tua yang tetap digugu Ian ditiru (didengar petuahnya, ditiru tindakannya?). Zaman berubah. Musim pun berganti. Dan dalam pergantian itu, kita tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan yang tak lagi sejalan dengan tafsir ideal tentang seorang guru sebagai yang digugu Ian ditiru.

Kita dibuat terkejut oleh sejenis pemberontakan moral dan penjungkirbalikan tatanan ideal dalam tafsir Jawa tadi. Dan, kita sepertinya tak siap menghadapi kenyataan ketika guru bukan cuma tak lagi digugu Ian ditiru, melainkan juga digebuk oleh sang murid.

Kita belum punya jawaban, apa yang mesti kita katakan sekarang ketika kita melihat murid datang kepada guru sambil membawa parang, golok, atau belati untuk mengancam sang guru, ketika gurunya tak bersedia memberinya nilai bagus atau menaikkannya ke kelas berikutnya

Kondisi sosio-psikologis macam apa yang mendorong ada murid mengamuk melempari kaea dan jendela, merusak sekolah, dan mengeroyok gurunya sendiri? Apa yang salah dalam diri guru? Dan, apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam masyarakat kita? Ringkasnya, mengapa kewibawaan guru merosot serendah itu? Guru-guru berjumpalitan, meneoba berakrobatik untuk menyesuaikan diri dengan panduan dari pusat. Mereka tergeneet situasi: mengejar target yang besar dari pusat akan selalu berarti menemui kesulitan dengan murid-muridnya sendiri, tapi bila ia mencoba memberi murid sedikit keleluasaan ia akan terbentur dengan atasan.

Guru memang masih tetap disanjung sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ada bahkan yang mengatakan bahwa umumnya tiap orang besar pernah menjadi guru. Mungkin benar, tapi guru dalam masyarakat kita sekarang jelas bukan orang besar. Jadi, apakah gunanya menghibur guru dengan ucapan seperti itu?

Bagi saya, gelar pahlawan tanpa tanda jasa lebih terasa ejekan, bukan penghormatan, karena seolah-olah guru memang tak berhak memperoleh tanda jasa itu.

Guru bukan manusia merdeka. la tidak bebas. la tidak mempunyai otonomi dalam memutuskan nasib murid-muridnya, meskipun tak seorang pun berani membantah bahwa dialah yang paling tahu tentang kemampuan murid-muridnya

Orang-tua murid yang tidak tahu ujung pangkal persoalan tak jarang campur tangan, melakukan intimidasi, atau menyogok sang guru dengan materi. Ini sekali lagi, membuktikan juga betapa guru memang bukan orang yang bbas. Mereka tak merdeka. Tampaknya guru, dalam kondisinya, tak bisa berkata tidak seperti dulu ketika Durna menolak satria, calon murid yang hendak berguru kepadanya.

Guru-guru tarekat yang tak terikat panduan atasan, yang tak menggantungkan kurikulum pendidikannya kepada kekuasaan orang pusat, tampaknya masih memiliki kharisma yang besar di mata para muridnya. Guru-guru tarekat, dengan kata lain, masih tetap pengejarwantahan dari konsep ideal tentang guru sebagai yang digugu lan ditiru.

Petuah sang guru tarekat didengarkan. Perintahnya disimak. “Sabda” mereka disetengahsucikan oleh para murid. Guru tarekat adalah sejenis raja yang paling berkuasa. Namun, mereka memperoleh kekuasaannya bukan dengan paksa, melainkan dengan wibawa.

Dari catatan sejarah yang bisa kita temukan bahwa sebagian guru tarekat bukan cuma didengar komando jihatnya untuk menyembelih si kafir Belanda, melainkan juga dipandang sebagai penjelmaan Ratu Adil yang bakal mengembalikan harmoni dalam masyarakat serta menjanjikan ketentraman dan kemakmuran hidup mereka.

Murid-murid tarekat (dulu) pernah rela mempertaruhkan leher demi melaksanakan perintah guru. Dan, murid-murid tarekat, sarnpai saat ini, rela mencium tangan, bahkan berebut sisa rnakanan sang guru untuk ngalap berkah.

Kemandirian, kebebasan, kharismanya yang besar, dan keteladanan moralnya itu yang rnernbuat murid tarekat rela menciurn tangan bahkan sungkem, menyernbah, di hadapan sang guru.

Barangkal model guru ideal macam guru tarekat seperti itu bukanlah target utama seorang guru saat ini. Lantas apa yang menjadi tujuan utama seorang guru jaman sekarang? Hanya mereka yang tahu…. Dan Tuhan tentunya. Dan itu sah sah saja karena jaman selalu berubah, gaya hidup juga begitu.

Kebebasan, Pencerahan, Dan (lagi-lagi) Poligami

March 18th, 2009 by ryu-nuerosurgeon

Undzur maa qola walaa tandzur man qola, pertimbangkan apa isi pendapat dan jangan pertimbangkan siapa yang berpendapat. Wisdom ini konon diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib, sahabat rasul yang terkenal cendekia. Sayangnya slogan ini akhirnya hanya jadi sebuah slogan tanpa pemaknaan yang berarti.

 

****

 

Entah apa yang sedang berkecamuk dalam tempurung kepala teman saya yang entah juga karena apa tiba-tiba muncul setelah belasan tahun tak pernah bertemu. Dia seorang ibu dari seorang anak, tiga hari terakhir ini dia beberapa kali bertanya tentang kebebasan, pencerahan dan (lagi-lagi) poligami. Masalah timbul setelah penjelasan normatif yang saya berikan tidak memuaskannya. Keterangan saya –menurutnya- malah menjadikan pengertiannya semakin kabur. Dan bukannya masalah selesai, handphone saya jadi terlalu sering berdering gara-gara masalah ini.

 

Apakah ada hubungan antara kebebasan, pencerahan dan poligami? Tentu saja ada kalau sengaja dihubung-hubungkan.

 

Apakah pertanyaan teman saya ini terlalu prematur? Menurut saya kok tidak. Akhirnya saya meladeninya juga untuk sekedar bertukar pendapat

 

Pada umumnya, orang hidup selalu saja memandang kebebasan sebagai “barang surgawi”, baik kebebasan dalam pengertian yang obyektif maupun subyektif.

 

Kalau kita  sedang dipenjara, entah karena ‘ngepruk’ kepala teman sepermainan atau karena anarki politik, maka kita berusaha untuk mendapatkan kebebasan subyektif. Antara lain dengan merasa tak dipenjara, dengan cara yang beragam seperti membuat diri kita tetap kreatif kalau mau kreatif, atau membuat diri tenteram kalau mau tenteram. Apakah hal ini aneh? Enggak juga kok. Karena yang namanya kebebasan subyektif itu memang berbeda bila dilihat dari kaca mata orang perorang.

 

Sedangkan kebanyakan yang kita dambakan adalah kebebasan obyektif. Dimana kita mendapat peluang sebesar-besarnya untuk berbuat sebebas-bebasnya. Jika kita terlampau diikat oleh hasrat kebebasan macam ini, maka kita akan bisa jadi babi buta yang tak mampu melihat. Tidak melihat bahwa hutan ini begitu lebat, bahwa banyak semak dan duri yang bertebaran, dan bahwa hutan ini sangat banyak berisi binatang lain, yang masing-masing juga memiliki hasrat kebebasan. Mungkin karena perumpamaan macam begini sehingga lahir sebuah pameo yang dulu sering diucapkan oleh ibu saya saya:”kalau mau bebas pergi saja ke hutan”. Padahal di hutan yang paling jauh dari keramaian manusiapun tak akan kita jumpai kebebasan obyektif itu.

 

Sebenarnya diantara sekian banyak guru-guru saya, para komedian termasuk yang saya anggap telah menganugerahi pelajaran-pelajaran paling bagus mengenai kebebasan ini. Karena melawak adalah suatu term yang sangat mengandung peluang pembebasan.

 

Komedi adalah ekspresi dari sikap kebebasan subyektif yang mampu menembus dan mengatasi banyak dimensi kehidupan, dibanding dengan modus ekspresi lain. Barangkali karena salah satu bahan baku lawakan adalah lamunan. Lamunan bisa membebaskan diri dari bermacam keterbatasan. Dimensi ruang yang tersedia untuk lamunan bisa dikatakan tak terbatas, ya meskipun daya jangkau lamunan manusia tentu ada batasnya juga.

 

Lamunan adalah simbol paling elementer dari kebebasan. Di dalam dunia komedi, lamunan diberi bentuk, memperoleh style tersendiri, kemudian memperoleh wujud eksistensinya yang spesial. Seorang pelawak di panggung dengan entheng berkata:”Mati itu enak lho, buktinya semua orang yang mati nggak ada yang kembali. Berarti kan semua pada kerasan di sana….”

 

Orang tertawa, dan kemudian diam-diam menyadari bahwa ‘itu sekedar lawakan’. Apa itu lawakan? Pembalikan logika, melawan sistem, membebaskan diri dari berbagai macam ukuran, bahkan ukuran yang dianut beberapa saat yang lalu oleh seorang pelawak. Seusai manggung, sang pelawak dalam kehidupan sehari-harinya tentu saja tidak lantas bunuh diri karena mati itu dianggap lebih enak.

 

Jadi sebebas-bebasnya kita secara obyektif, tetap saja tak akan sebesar kemungkinan meraih kebebasan subyektif. Karena kebebasan obyektif kita akan sangat dibatasi oleh kepentingan individu lain yang juga mendambakan kebebasan obyektif menurut takaran mereka masing-masing.

 

Lantas apa hubungannya dengan pencerahan?

 

Menurut Immanuel Kant seorang filsuf Jerman yang hidup pada tahun 1724-1804 dalam sebuah karya tulisnya yang berjudul “Apa Itu Pencerahan?” Pencerahan yang dalam bahasa Jerman disebut sebagai “aufklarung” adalah bangkitnya manusia dari ketidakmatangan. Adapun ketidakmatangan itu sendiri adalah “ketidakmampuan menggunakan penalaran pribadi” dan keinginan untuk selalu merujuk dan menggunakan pendapat orang lain. Manusia tidak matang bukan karena tidak mau berfikir melainkan karena takut menggunakan pemahamannya sendiri.

 

Kant, sebagai pelopor zaman pencerahan di Eropa, menganjurkan untuk menggunakan pemahaman sendiri dan membuang jauh-jauh pemahaman orang lain yang tidak relevan. Selama kita bergantung kepada pemahaman orang lain maka kita tidak akan pernah matang. Dan oleh karenanya tak akan tercerahkan.

 

Maka semboyan pencerahan yang sangat terkenal adalah “Sapere Aude” yang artinya “beranilah menggunakan penalaran sendiri”. Dengan kata lain orang yang tidak berani menggunakan pemahamannya sendiri bukanlah orang yang tercerahkan.

 

Letak penekanan pada pencerahan bukanlah “menggunakan pemahaman sendiri”, tetapi “berani”. Beranikah kita, misalnya menggunakan pemahaman sendiri menghadapi persoalan-persoalan keagamaan yang kita hadapi saat ini? Beranikah kita menggunakan pemahaman kita sendiri berhadapan dengan pandangan-pandangan orang lain?

 

Orang lain itu bisa saja Ketua MUI, Abul A’la al Maududy, Sayyid Qutb, Qardawi, Al Farabi, Ibnu Taimyah, al-Ghazali, Imam syafi’i, para sahabat, atau bahkan Nabi Muhammad sendiri.

 

Pencerahan memerlukan kedewasaan dan kematangan. Orang yang selalu menganggap orang lain lebih besar dan lebih memiliki otoritas lebih tinggi ketimbang dirinya, tidak akan pernah bisa dewasa dan tidak akan pernah bisa matang.

 

Penemuan-penemuan baru ada bukanlah dikarenakan mengulang-ulang pendapat lama, akan tetapi mencari sendiri pendapat-pendapat baru secara kreatif. Pengulangan pendapat-pendapat lama tidak akan membawa kita kemana-mana kecuali kembali ke masa silam, yang dijadikan rujukan

 

 

“Keberanian” seperti juga “kebebasan” adalah konsep yang sulit diterima manusia. Karena manusia cenderung menerima yang sudah ada, yang sudah tersedia. Sesuatu yang “liar” dan “tanpa batas” adalah sesuatu yang menakutkan. Maka dari itu, bagi mereka, lebih baik menerima yang sudah ada meskipun jelek dan tidak menarik.

 

Lalu apa hubungannya dengan poligami?

 

Yaitu tadi, persoalan muncul dan menjadi polemik karena rujukan-rujukan yang diambil dari pendapat masa lalu. Banyak sekali ide yang datang dari masa silam diambil begitu saja oleh umat muslim, tanpa ada sikap kritis sedikitpun. Salah satu contoh kongkritnya adalah poligami. Saya tidak hendak menyederhanakan masalah, juga tidak hendak menggeneralisir persoalan. Justeru karena kita tidak berani membebaskan penalaran  maka kita menghadapi masalah bak benang kusut, dan tidak tahu harus diurai dari mana.

 

Urusan poligami ini biasanya jadi lebih rumit karena tidak jarang perkawinan ganda ini dilaksanakan dibawah tangan alias kawin gelap, yang biasanya juga, supaya nampak lebih memiliki alasan religius dibungkus dengan nama nikah sirri. Tanpa kita tahu atau berusaha mengetahui bahwa nikah sirri itu pada awalnya adalah istilah yang digunakan untuk pernikahan yang tidak dipestakan.

 

Lha wong namanya saja kawin gelap, kalau secara resmi ditanya ya tentu saja tidak ngaku. Akibatnya, bila disurvey jumlahnya seperti fenomena gunung es, hanya sedikit yang ketahuan. Tapi sudah menjadi rahasia umum bahwa jumlahnya tidaklah sedikit

 

Pada umumnya seorang wanita tidak rela bila dimadu. Namun ada juga seorang isteri yang ajaib. Suaminya dipersilahkan bahkan didorong-dorong untuk kawin lagi. Bila perlu dia yang mencarikan perawan.

 

Permasalahannya adalah, kenapa orang-orang melakukan hal itu? Mungkin karena enak, yang enak tentu bukan ‘rumah tangga’-nya akan tetapi ‘kawin’-nya.

 

Mungkin juga karena rumah tangga yang tidak bahagia. Tidak cocok dan banyak tidak puas. Karena suami istri baru faham tabiat dan kecenderungan masing-masing setelah satu dua tahun menikah. Dulu waktu pacaran yang mereka ketahui dan nikmati hanyalah lapisan superfisialnya saja ditambah dengan takhayul yang enak-enak tentang pernikahan.

 

Berumah tangga itu bisa diibaratkan seperti rasa asin. Tidak bisa dinformasikan secara tulisan maupun verbal. Yang bisa hanyalah dengan cara mengulum beberapa butir garam, tahulah rasa asin. Tapi kalau garam yang masuk mulut kebanayakan rasa asin itu jadi rasa yang ‘menyiksa’.

 

Istri itu tidak sama dengan jodoh, jodoh juga tidak identik dengan istri. Istri belum tentu jodoh, jodoh belum tentu jadi istri. Jodoh adalah pengertian obyektif tentang komposisi dan harmoni antara dua manusia. Atas dasar relativitas macam ini maka bisa kita jumpai seorang laki-laki berumah tangga dengan wanita yang bukan jodoh dan sekaligus ‘bukan istri’, karena diantara keduanya tidak ada harmoni. Hal ini tak akan terlalu menjadi masalah sebab institusi yang bernama pernikahan itu cita rasanya macam-macam. Seorang wanita yang cantik tidak selalu mempunyai suami yang tampan gagah, atau sebaliknya seorang lelaki ilmuwan tak jarang beristeri wanita pembenci hal-hal ilmiah. Akan menjadi persoalan apabila memang ketidakharmonisan ini dikehendaki menjadi sebuah masalah.

 

Dan akibatnya, kata kitab suci: min kuntum laa yahtsibu. Terjadilah hal-hal yang tidak cocok dengan perhitungan kita, dengan dugaan kita, dengan persepsi dan gagasan kita. Karena pada awalnya kita tidak menskenariokan kemungkinan yang timbul dari perbuatan kita. Kita hanya sekedar melakukan hal yang enak dengan istri kita, lalu resikonya anakpun lahir disertai dengan segudang permasalahan sebagai konsekwensinya. Dan biasanya dengan sombong kita lantas berkata, bahwa kita telah dipercaya Tuhan untuk mengemban amanah mendidik anak-anak kita. Kita manusia ini memang punya kecenderungan megalomania.

 

Atau, barangkali orang melakukan kawin bawah tangan karena yakin, bahwa fiqh agama yang dianutnya memperbolehkan. Akan tetapi karena adanya peraturan pemerintah yang melarangnya, maka terjadilah perkawinan gelap itu.

 

Saat pembicaraan kami sampai pada hal ini, teman saya ini menyinggung tentang PP-10. Saya tidak mau berasumsi hal apa yang sedang terjadi pada keluarganya. Saya  hanya mengutarakan bahwa sikap saya mendua terhadap peraturan yang satu ini. Kalau mengacu pada hukum positif keagamaan, memang saya tidak setuju. Namun jika memandang perlunya adanya sebuah kekuatan yang bisa memaksa untuk memberangus kecenderungan budaya masyarakat yang demokrasinya mentah, saya akan berada di barisan paling depan untuk berteriak setuju!

 

Yang saya maksud dengan demokrasi mentah adalah ketidaksiapan masyasarakat untuk mengekspresikan apa yang disebut kebebasan. Tentu saja kita tidak akan serta merta setuju  dengan tindakan anak-anak gadis kita andai saja mereka naik sepeda motor keliling kota dengan memakai pakaian renang, hanya dengan alasan demokrasi!

 

Aturan obyektif positif fiqh islam tentang  poligami, tidak otomatis bebas dimanfaatkan kaum lelaki tanpa pertanggungjawaban kualitatif. Sama halnya seperti shalat, bukan hanya sekedar tugas jungkar-jungkir yang bebas dari pemaknaan, penghayatan dan kesungguhan akan setiap kata yang diucapkan dalam shalat.

 

Jadi, lelaki tidak boleh memahami perkenaan poligami sebagai sebuah perspektif kebebasan, sebab aksentuasinya justeru pada pertanggunjawaban sosial. Saya tentu tak bisa berkata, “Tuhan, karena engkau membolehkan poligami maka aku akan kawin lagi, habis perkara”.

 

Poligami bukanlah prinsip, bukan azas, melainkan ‘pengeluaran tak terduga’ dari ‘anggaran kehidupan’, yang memang mengandung probabilitas yang tidak terbatas. Anda jangan makan babi, itu haram, tapi pada saat anda berada di tengah padang pasir dan hanya ada babi untuk dimakan, ya makanlah.

 

Shalat harus dilakukan dengan berdiri, ruku’, sujud dan sebagainya. Tapi karena kita hanya bisa berbaring, ya  kita shalat dengan berbaring. Dan karena kita bisa hanya dengan hati, ya maka hati kita sajalah yang mengucapkan kalimat-kalimat kepada Tuhan. Tuhan tidak meminta bunyi mulut kita, bahkan Ia juga tidak meminta ucapan lahir ataupun batin kita. Yang diminta adalah kesungguhan hati kita, meskipun tanpa ucapan dan tanpa bunyi.

 

Maka tekanan makna poligami tidak pada perkenaan obyektif fiqh namun pada pengetahuan dan kesungguahan jiwa seseorang atas pribadinya ditengah integralitas dengan lingkungannya. Kawin lebih dari satu hanya kalau ada situasi-situasi sosial yang dalam perhitungan secara keseluruhan memaksa kita untuk melakukan itu. Kebanyakan lelaki mengawini lebi dari seorang wanita tidak berangkat dari situasi-situasi darurat sosial, sebagaimana makan babi di padang pasir. Juga tidak melalui pertimbangan-pertimbangan kemasyarakatan. Melainkan pelampiasan-pelampiasan yang bersifat personal dan subyektif

 

Sampai di sini teman saya ini menyela, “Kata uztad aku disuruh pasrah dan ikhlas untuk dimadu”

 

Jelaslah sekarang apa yang sedang dihadapi wanita yang sedang kebingungan ini. “Dan lagi, sebetulnya aku bisa maklum. Kalau aku sedang mens, terus bagaimana suamiku…”, imbuhnya lagi.

 

Sayapun tak tahan untuk bicara menjurus kasar, “Lho… jadi kalian menikah hanya sekedar urusan ranjang? Lha apa bedanya dengan sapi? Yang harus mendapat pelampiasan pada saat musim berahi tiba? Yang nggak bisa menahan barang beberapa saat?”

 

“Jadi kamu samakan suamiku dengan seekor sapi?” sergahnya dengan nada tinggi.

 

“Maaf, saya tidak sedang mengidentikkan suamimu dengan sapi. Hanya saja jawabanmu tadi yang memperkenankan suamimu mempunyai istri lain  karena saat mens kamu tidak bisa melayani. Konteksnya ya jadi konteks binatang”

 

“Wah kalau aku mengikuti pendapatmu, aku akan dianggap bukan muslimah yang baik….”

 

Dan saya tutup pembicaraan dengan, “Yah, semoga kamu mendapatkan pencerahan. Berani berani berfikir beda”

Hari ini telepon saya berdering dua kali dengan permasalahan yang sama. Hanya saja yang menelepon adalah sang suami. Nah lo…

 

Semoga keberanian senantiasa berada di hati kita.

Apa Artinya Satu-Dua Orang Suci

September 26th, 2008 by ryu-nuerosurgeon

Benarkah bahwa kebuntuan yang ada dalam  mengahadapi masalah sosial kita saat ini dikarenakan rendahnya mentalitas individu-individu diantara kita? Ataukah ada sebab lain yang lebih dominan? Pertanyaan ini memang tak mudah dijawab. Setidaknya kalau kita masih terkekang, atau lebih tepatnya mengekang diri pada aksioma atau anggapan umum (termasuk tradisi dalam agama) yang kelewat dipaksakan.

 

Dewasa ini, barangkali kita bisa menemukan puluhan metode pengembangan mental dan kepribadian. Ada produk impor macam John Robert Power, ataupun produk-produk lokal.  Apapun itu namanya. Latihan dan kursus motivasi macam ini acap kali membuat si peserta merasa terlahir kembali sebagai manusia baru. Seolah-olah pengalaman seumur hidupnya sebelum mengikuti kursus menjadi tidak ada artinya. Lucu memang. Tapi kenyataannya memang begitu.

 

Nah, pertanyaan yang mucul adalah, apa manfaat pelatihan-pelatihan itu dalam hidup bermasyarakat?

 

Kemarin malam di Masjid At Tiin TMII,  kebetulan saya bertemu seorang motivator kondang. Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengikuti pelatihan motivasi yang dikomandaninya. Dia dengan semangat, membeberkan bahwa metode yang dia gunakan telah terbukti meningkatkan produktivitas karyawan puluhan perusahaan yang telah mengontrak dia sebagai mentor dalam pelatihan motivasi berkala. Kata beliau ini, latihan dengan metodenya, pendeknya, telah berhasil memotivasi dan merubah mereka menjadi sejenis manusia “baru”, manusia yang lain dari hari-hari lalunya

 

Dalam teori modernisasi, teori-teori pengembangan motivasi dan mental macam ini dikategorikan sebagai teori mentalisme. Maju tidaknya seseorang, suatu kelompok atau masyarakat dalam sebuah negara, dengan demikian sangat bergantung pada sikap mental mereka sendiri. Jika memiliki sikap mental yang baik, penuh ide dan gagasan, mereka akan menjadi lebih maju. Jika tidak, keadaan sebaliknya akan terjadi.

 

Maka tidak mengherankan bila para penganut aliran mentalisme ini (termasuk orang awam) kemudian dengan mudah memberi fatwa bahwa masyarakat kita tidak maju karena sikap mental kita pada prinsipnya tidak atau belum cocok dengan syarat-syarat yang diperlukan oleh pembangunan.

 

Sikap mental dianggap sebagai kunci tiap persoalan. Benarkah?

 

Jika puasa yang sudah hampir sebulan kita lewati ini, dan Idul Fitri beserta kewajiban membayar zakat bisa disebut sebagai latihan motivasi yang berhasil, dapatkah kemudian lahir pada umat Islam sikap mental yang mencerminkan segenap kecenderungan yang baik,semata? Dapatkah misalnya, kita, umat Islam lalu menjadi manusia yang lebih jujur dari saat sebelumnya? Dapat jugakah kita, setelah puasa itu,menjadi hamba yang lebih sosial, lebih memiliki solidaritas terhadap sesama, terutama pada mereka yang lebih miskin? Dan, dapatkah kita, setelah digembleng di kawah candradimuka (metafora yang selalu digunakan para ustad dan dai kita) itu tampil sebagai manusia “baru” yang lain dari sebelum­nya dan yang menghayati fungsi kekhalifahannya dengan baik hingga tak mungkin bagi kita untuk bersikap tamak dan serba ingin mengangkangi seluruh isi dunia?

 

Secara teoretis, sebagaimana dikatakan berulang-ulang se­tiap tahun oleh para ustad dan para dai di masjid-masjid, mestinya bisa. Artinya, setelah digembleng itu kita lalu bisa tampil secara lain. Kita bisa menjadi lebih jujur, lebih adil, lebih demokratis, lebih menghargai sesama, lebih tidak ta­mak, lebih murah, dan lebih pelindung.

 

Namun, dalam kenyataan empiris, mengapa segala yang secara teoretis dikatakan mungkin itu, nyatanya tidak mungkin? Maksudnya, mengapa kondisi kita dari dulu juga cuma begini-begini saja, padahal puasa demi puasa dan lebaran demi lebaran telah berlalu? Apa yang salah dalam diri kita? Apa yang tak berhasil kita tangkap dalam per­buruan kita mengejar kasampurnaning laku pada tiap-tiap puasa dan lebaran kita?

 

Pertanyaan macam ini selalu saja mendapat jawaban yang teoritis juga. Bahwa puasa kita lakukan bukan imanan wahtisyaban, bukan dilambari iman. Sehingga kita hanya mendapat lapar dan dahaga. Dan bagaimana agar kita tidak hanya dapat lapar dan dahaga? Maka kita akan mendapat jawaban yang kelewat normatif dan klise, ya itu-itu saja.

 

Saya jadi teringat kira-kira lima belas tahun yang lalu. Goenawan Mohamad pernah bilang dalam salah satu catatan pinggirnya di Tempo, bahwa “proyek” untuk menjadikan manusia sempurna itu sering (dalam kenyataan) berakhir mengecewakan. Pendeknya, “manusia bukan malaekat”. Dan, dunia kumuh ini memang tak bisa dibikin menjadi surga.

 

Perlu diketahui, kalimat yang terhormat Pak Goenawan Mohamad kala itu dikemukakan dalam kaitan dengan kritiknya terhadap komunis yang memimpikan lahirnya manusia-manusia (dan masyarakat) yang sosialistis, yang tidak mengandung kelas ­kelas di dalamnya.

 

Agama pun sebenarnya memiliki ajaran ideal, yang se­olah-olah kelihatan utopis karena kenyataan menunjukkan betapa sulitnya manusia mencapai takaran ideal seperti itu. Maka, sekali lagi kita bertanya, mengapa puasa demi puasa dan lebaran demi lebaran kita lalui, namun kenyataan so­sial kita tetap kumuh, tetap tak seindah kenyataan ideologis kita?

 

Barangkali selama ini kita kelewatan menekankan dan juga bergantung kelewat kuat pada unsur-unsur normatif dari ajaran. Barangkali selama ini kita kelewat mengagung­kan gagasan ideal bahwa berkat

gemblengan bulan suci Ramadan kita akan jadi begini dan begitu, dan ternyata tidak.

 

Sikap begitu bisa mengakibatkan kita lupa pada keharus­an membenahi tantangan-tantangan kongkret dalam struk­tur masyarakat kita. Orang per orang memang bisa menjadi manusia suci, tetapi satu dua orang suci, apa artinya ber­hadapan dengan berjuta manusia serakah yang dominan dalam struktur masyarakat kita?

 

Dalam hal ini tampaknya kaum strukturalis (termasuk Kang Ulil Absar Abdala) benar, bahwa yang penting bukan sikap mental, melainkan struktur sosial.

 

Oleh karena itu, yang kita perlukan sekarang bukan sekedar melatih dan mengembangkan sikap mental yang cuma bergerak di sekitar pribadi-pribadi, melainkan menumbuhkan sikap sosial yang mampu menjangkau seluas mung­kin sasaran kemasyarakatan. Jika perlu, harus mampu men­dasari tumbuhnya nilai-nilai sosial yang akan bisa mengaki­batkan terjadinya transformasi sosial secara berarti dalam masyarakat kita.

 

Sehingga tak terlalu berlebihan bila saat ini ditekankan, kesalehan ritual memang penting namun kesalehan sosial menjadi lebih urgen sifatnya.

 

Semoga kejernihan hati dan fikiran selalu dilimpahkan kepada kita.

Thomas Aquinas dan Lailatul Qadr

September 11th, 2008 by ryu-nuerosurgeon

“things known are in the knower according to the mode of the knower”

in: Summa Theologia, II/II,Q.1,art.2

by Thomas Aquinas

 

Pengaruh bulan puasa di tanah air ini sungguh sangat terasa. Kalau masalah kemajuan ruhaninya, itu sih urusan masing-masing dan saya tidak tahu. Tapi paling tidak hal ini terasa dampaknya pada kehidupan fisik yang  nyata sehari-hari.

 

Bagaimana tidak. Lihat saja. Geliat ekonomi di luar kebiasaan. Pasar jadi lebih  ramai ketimbang hari-hari biasa, harga-harga kebutuhan lebaran pelahan tapi pasti merayap naik. Pegadaian semakin sibuk. Toko emas jadi lebih banyak pembeli. Pendek kata aliran perputaran uang semakin laju.

 

Stasiun-stasiun teve juga tak mau kalah, seakan berlomba duapuluh empat jam non-stop. Artis, selebritis dan pelawak sontak menjadi da’i dadakan. Ucapan dan komentar mereka seputar ibadah puasa menghiasi media layar kaca. Entah berdasar sumber yang mana ulasan mereka itu tidak penting, yang jelas (bagi saya) mereka mencoba menerjemahkan hikmah bulan yang sudah terlanjur dianggap suci ini. Dan ini (bagi saya) oke-oke saja. Kalau kemudian ada penafsiaran dan pemahaman yang berbeda bahkan bertolak belakang, itu sih (bagi saya) juga sah-sah saja.

 

Saya setuju dengan Thomas Aquinas (orang ini hidup pada abad ke tiga belas) yang pendapatnya saya tulis pada awal tulisan ini. Bahwa modus atau cara pandang yang dibentuk oleh pengalaman seseorang pada gilirannya akan membentuk cara dia memahami, mengetahui, menyeleksi, dan menafsirkan sesuatu. Sesuatu itu ya bisa apa saja, termasuk Quran, sunnah, sejarah  sahabat rasulullah dan generasi sesudahnya.

 

Nah, dikarenakan pengalaman kita yang sudah jelas beragam, pemahaman yang muculpun juga tidak akan sama. Ini pun berlaku dengan segala ritual dan  pernak pernik bulan puasa ini

 

Pada umumnya kita sepakat ibadah kita di bulan ramadlan ini adalah: berpuasa karena panggilan iman Sebab  Allah  hanya menghimbau agar orang-orang yang beriman (bukan orang yang lain) berani bersusah payah meningkatkan derajat lewat puasa sebulan lamanya untuk menjadi hamba yang takwa.

 

Akan tetapi pemahaman masing-masing pribadi berkenaan dengan ketakwaan ini lantas jadi beragam.

 

Buat sebagian orang, menjadi takwa merupakan sebuah ke­butuhan. Mereka, dengan sendirinya, tak lagi memerlukan him­bauan dari siapa pun. Juga tidak dari Allah. Mereka sudah bisa bergerak sendiri karena kebutuhan yang datarig dari dalam diri sendiri.

 

Maka bila di bulan Ramadhan keadaan kita memperlihatkan kesibukan ibadah yang tampak menggelora, sebagian sebabnya mudah-mudahan kehendak untuk menjadi takwa itu. Dan se­moga kehendak untuk takwa tak dilumuri tujuan-tujuan kedu­niaan yang lebih remeh.

 

Tapi bagi sebagian yang lain, kesibukan ibadah yang di­lakukan siang-malang itu, bisa saja karena tergiur bonus yang sudah menjadi legenda. Di tiap-tiap bulan Ramadhan, konon  disediakan bonus khusus: Lailatul Qadr. Kita boleh menerjemahkannya menjadi “Malam Agung”: sebuah malam yang lebih indah dari seribu bulan. Bila kita beribadah tepat di saat turunnya Laitul Qadr itu, pahala kita sarna besar dengan ibadah selama seribu bulan. Begitulah kira-kira iming-iming yang menggiurkan ini.

 

Lha saya jadi berfikir. Di dunia ruhani, ternyata berlaku juga bonus dan rangsang­an logika yang dalam hidup sehari-hari sekarang ini lazim digu­nakan dalam dunia bisnis buat merebut sebanyak mungkin pe­langgan. Tapi Allah, tentu saja, tak memerlukan ‘pelanggan’ se­perti itu. Allah terlampau Mulia, terlampau Terkenal dan terlam­pau Luhur untuk menempuh cara ifu bagi kepentingan-Nya. Kita tahu, bila bonus itu disediakan-Nya, soalnya sederhana: lantaran Dia berbicara dalam bahasa manusia.

 

 

***

 

Di masyarakat Islam Indonesia, Laitatul Qadr memiliki wajah ganda: disatu pihak, merupakan ajaran resmi sebagaimana termaktub di dalam kitab sud Al-Quran, dan di pihak lain ia muncul sebagi sebuah mitos.

 

Sebagai ajaran pun sebenarnya tak ada orang yang tahu pasti kapan Lailatul Qadr turun. Para kiai bilang, ia turun di tanggal­ tanggal ganjil selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Sebagian orang lagi tak menyetujui pernyataan itu lantaran per­soalannya memang tak persis begitu. Bisa saja ia turun di awal Ramadhan, dan tak harus pada tanggal ganjil.

 

Ada ustad menggunakan metafora bahwa untuk mempe­roleh Lailatur Qadr kita harus memakai strategi menebak kupon. Kalau kita seuma membeli satu-dua kupon, kemungkinan untuk gagal besar sekali. Maka sebaiknya kita beli semua kupon yang ada dan kita akan,menang. Memang lucu, tapi ya sah sah saja.

 

Sebagai mitos, Lailatul Qadr pun muncul dalam banyak versi pemahaman. Ketika saya masih kecil, sering orang-orang dewasa bercerita hal yang tidak masuk di akal saya bahwa di saat Lalilatul Qadr turun, bumi sunyi sepi. Keadaan begitu senyap, seolah bumi telah berubah menjadi se­buah kuburan raksasa, seperti tak ada makhluk bergerak di atas­nya. Angin pun tak bertiup. Tapi bukan cuma itu. Ada cerita lain, bahwa di malam itu, keanehan-keanehan terjadi. Kali mengalir ke arah sebaliknya, yakni menuju ke mata air, dan pohon-pohon bisa bersujud biarpun tak ada hembusan angin. Dan bayi pun bisa berbicara.

 

Siapa yang beruntung menyaksikan itu semua, hidupnya akan menjadi lebih enak. Pintu-pintu rezeki terbuka lebih lebar, dan kita merasa selalu serba berkah. Bahkan apa pun yang kita kehendaki, akan tereapai. Kita, pendeknya, hidup istimewa.

 

Untuk ‘memburu’ keistimewaan-keistimewaan ini maka di­adakan gerakan ibadah all nights selama sebulan. Dan kita pun kemudian diam-diam tak merasa bahwa ibadah kita selama se­bulan itu telah bergeser: kita lakukan ibadah itu demi Lailatul Qadr.

 

Saya tidak menolak keanehan-keanehan karena hidup ini sen­diri sudah aneh. Tapi hidup tak bisa disandarkan sepenuhnya pada yang aneh-aneh. Kita misalnya, tak bisa menunggu rezeki kita sambil duduk-duduk menanti kapan pohon di depan kita bersujud. Kita juga tak bisa menunggu kenaikan pangkat ha­nya dengan tidur-tidur di tepi kali, menanti kapan air kali itu mengalir ke arah sebaliknya, bukan menuju muara seperti lazim­nya.

 

Lagi pula, saya kira Lailatul Qadr tidak bisa ditunggu secara dadakan. Anugerah “Malam Agung” itu mungkin hanya akan turun ke dalam jiwa-jiwa yang juga agung, jiwa-jiwa yang sudah siap.

 

Dan mungkin, jiwa kita akan siap bila sikap kita justru se­baliknya: kita tak usah memburunya. Cukup bagi kita bila kita memacu diri ‘memburu’ untuk mendekatkan diri dan takwa pada pemilik “malam agung” itu: Sang pemilik Yang Maha Agung itu, jauh lebih Agung dari “malam agung” itu sendiri. Bonus, apa pun wujudnya, lebih remeh dibanding keagungan sang pemilik.

Resi Bisma dan Korupsi

September 8th, 2008 by ryu-nuerosurgeon

Apa hubungan puasa dengan pemberantasan kejahatan? Kalau memang benar bahwa selama bulan puasa semua setan-setan dikerangkeng, seharusnya tidak ada kejahatan, bukan begitu?

 

Ini adalah pertanyaan yang keluar dari mulut anak laki-laki usia sembilan tahun. Terus terang apa bila pertanyaan macam itu jatuh kepada saya, saya pun akan pusing untuk menjelaskan secara memuaskan. Karena tentu saja pertanyaan itu muncul karena masuknya sebuah atau lebih informasi kepadak si anak itu.

 

Harus diakui bahwa kita (minimal saya) sangat miskin pengetahuan akan religious literacy tentang Islam. Dengan kata lain, kita ini lebih sering mendapatkan informasi dari mulut ke mulut ketimbang mengetahuinya berdasarkan kajian literatur yang beragam.

 

Lantas apa bedanya dengan gossip?

 

Padahal setelah ditelusuri. Ternyata (sampai sejauh ini yang saya tahu) meskipun semua ulama sepakat bahwa puasa Ramadlan itu wajib, tapi mengenai apa, bagaimana dan mengapanya, ada puluhan bahkan mungkin ratusan perbedaan  pendapat yang sengit. Tidak jarang sampai timbul pertikaian.

 

Pertanyaan yang menyusul kemudian adalah, dari sekian puluh pendapat itu mana yang benar? Semuanya benar? Atau semuanya salah?

 

Kecenderungan yang ada adalah: “pendapatkulah”yang paling benar.

 

So…, pertanyaan si anak umur sembilan tahun tadi pun akan mendapatkan puluhan jawaban yang berbeda.

 

Ya sudahlah.

 

Perjalanan ruhani yang rencananya akan berlangsung selama sebulan ini baru delapan hari berjalan. Namun aroma lebaran sudah dapat dirasakan. Dan apa yang bakal dijumpai di ujung perjalanan itu, mungkin berbeda pada setiap orang.

 

Bentuk amalan selama puasa bisa saja sama. Tujuannya sama. Haus dan laparnya sama. Tapi kualitasnya, yaitu sikap jiwa ketika puasa itu dilakukan, mungkin berbeda. Padahal kualitas itu yang menentukan.

 

***

 

Ketika perang saudara antara Pajang dan Jipang tak mungkin lagi dihindarkan, Sunan Kudus, sesepuh para wali, memberikan resep spiritual kepada Arya Penangsang. Intinya, jika ia ingin menang melawan Jaka Tingkir, ia harus berani menempuh laku batin yang berat: pati geni selama empat puluh hari empat puluh malam.

 

“Berani, Penangsang?” tanya Sunan Kudus. “Berani, guru,” sahut Penangsang tegas. “Cah bagus,” komentar gurunya.

 

Dan Arya Penangsang pun meninggalkan Kadipaten Jipang menuju sebuah hutan yang sepi. Di sana ia.menempa diri lahir dan batin. Tak ada yang ia pikirkan kecuali satu: merebut kembali hak yang dirampas Jaka Tingkir.

 

Dan benar. Ia berhasil menempuh “laku” batin itu. Maka, pada hari keempat puluh pun ia pulang. Pesta besar diadakan untuk menyambut keberhasilannya. Aneka makanan dihidang­kan. Juga minuman. Termasuk minuman keras.

 

Dalam pesta pora, rnereka lupa diri. Sesloki demi sesloki minuman keras mereka tenggak. Para undangan sernpoyongan. Arya Penangsang terkapar di lantai.

 

Syahdan, Sunan Kudus terlambat datang. Sang guru me­mang sengaja tak diundang, karena sudah pasti ia tak bakal mengizinkan pesta seperti itu berlangsung.

 

“Aduh, Penangsang, Penangsang…, kok begini jadinya…,” keluh sang guru. “Percuma semua. Percuma…,” gerutu Sunan Kudus lagi. “Bukan begini seharusnya pesta syukur diadakan. Seperti kuda lepas dari pingitan, rumput apa saja mau dima­kan.”

 

Dalam perang yang rnenentukan itu, Penangsang tewas. Dan dampar kamukten Demak, apa boleh buat, tetap diduduki Jaka Tingkir alias Sultan Hadiwijaya.

 

***

 

Bisa saja “sejarah”  di atas hanyalah sekedar  kabar dari mulut ke mulut. Atau paling tidak kejadiaannya tidak persis seperti itu. Terlepas benar atau tidak riwayat tersebut, ada baiknya kalau kita teladani hikmah dibalik semuanya.

 

Kita bukan Penangsang, dan tak ingin menjadi Penangsang. Kita juga tak sedang menghadapi perang melawan siapa pun. Selama puasa, katanya, kita berperang melawan diri sendiri.

 

Nafsu-nafsu, keangkuhan, keserakahan, semua diperangi. Semua dijinakkan. Kita ajak mereka bersujud. Dengan begitu, damai dengan siapa pun. Minimal dengan diri sendiri.

 

Duapuluh empat tahun silam. Saya baru saja lulus SMA. Juga pada bulan puasa di pondok pesantren Pabelan. Saya merasa sangat beruntung bisa bertemu dan mendengarkan wejangan dari almarhum Romo Begawan pemimpin pesantren waktu itu.

 

“Ini penting, Nak,” kata rorno kiai, ketika kami kongkow sampai menjelang sahur. “Damai dengan diri sendiri merupakan prakondisi untuk membangun sikap altruis, sikap mengutamakan orang lain.”

 

“Lebaran” katanya lagi, “bukan akhir dari ‘laku’ batin kita, seperti banyak orang mengira. Lebaran itu malah baru permu­laan.”

 

“Kalau begitu Kiai,” saya heran, “bukankah kita sudah sebu­lan menahan diri, dan bukankah kita malah diharamkan puasa di hari raya itu?

 

“Betul,” sahut romo kiai lernbut. “Semua itu betul. Tapi jangan lupa, puasa itu baru latihannya. Puasa itu gladi resik buat menyambut ‘laku’ batin yang lebih sejati: mewujudkan sikap altruis dalam hidup sosial kita. Ini yang susah.”

 

“Tiap tindakan yang kita lakukan di hari Lebaran itu wujud altruisme semua, Kiai,” sahut saya.

 

“Semoga benar begitu.”

 

“Saya yakin benar, Kiai. Kita kirim kartu Lebaran kepada segenap sahabat, teman, atasan, rekanan bisnis, pejabat…, apa maknanya kalau bukan tindakan altruis?”

 

Romo Kiai diam saja.

 

“Bingkisan Lebaran kita kirim kepada atasan di kantor, kepada orang tua atau mertua, kepada pejabat, kepada rekanan bisnis, juga kepada tetangga. Bukankah itu usaha menyenangkan pihak lain. Bukankah itu juga tindakan nyata menghormati pihak lain?”

 

“Ya kalau memang begitu. Kalau ada motif lain?”

 

“Motif apa lagi, Kiai?”

 

“Berburuk sangka tidak baik. Tapi menjaga keikhlasan itu wajib. Jadi, demi keikhlasan dalam sikap altruis, orang boleh bertanya, benarkah kartu dan bingkisan kita kirim semata buat menyenangkan pihak lain, yaitu pejabat, atasan, rekanan bisnis? Tak adakah misalnya pamrih agar pejabat itu ingat kita, dan kelak dalam bisnis kita diberi kemudahan? Tak adakah pamrih, ketika kirim bingkisan ratusan ribu rupiah kepada atasan itu, agar kita dipromosikan ke jabatan yang lebih empuk?”

 

“Kalau kenyataannya kita semua bebas dari pamrih itu ba­gaimana, Kiai?”

 

“Jelas mulia. Tapi toh baru langkah awal.”

 

“Kok rumit amat, Kiai?”

 

“Bahasa hati memang rumit, Nak,” sahut romo kiai.

 

“Kalau begitu altruisme yang beneran itu yang mana?”

 

“Yang mencerrninkan bahwa kita bisa memetik hikmah pu­asa. Terutama hikmah dari latihan tidak makan itu. Di kantor, kita lalu tidak makan beras orang lain. Di lapangan, tidak makan semen atau aspal. Dan dalam persaingan bisnis, kita berhenti bertanya: besok makan siapa? Stop semua. Kalau kita masih makan perusahaan orang lain, kita turun derajat sampai ke taraf dunia ular dan kodok namanya.”

 

Saya hanya bisa manggut-manggut. Betapa mengena petuah romo kiai. Kala itu saya tidak tahu adakah perusahaan yang mencaplok perusa­haan lain. Saya juga tidak tahu adakah orang yang doyan makan orang lain. Tapi setelah saya berusaha  menyelami jiwa saya sendiri, saya mera­sa bahwa mungkin benar saya kirim bingkisan dan kartu-kartu lebaran itu diam-diam mengandung “angin” suap-menyuap.

 

Kemudian saya pun ingat Bisma, dan diam-diam saya akui ucapannya kepada Drupadi, bahwa jalan darma me­mang subtil, rumit, dan berliku-liku. Mengandung unsur korupsi pun kita tak merasa.

 

Semoga kita selalu dilimpahi ketajaman fikiran dan hati.

Starbuck dan Nabi Nuh AS

September 5th, 2008 by ryu-nuerosurgeon

Beberapa bulan yang lalu. Saya sedang membuka e-mail sambail santai menunggu pesawat di Starbucks Coffee bandara  Los Angeles. Tiga orang berjubah hitam yang sejak beberapa saat mengamati (tapi saya pura-pura tak tahu) dating mendekati.  Saya jadi was-was. Apa salah saya, sampai orang-orang dari pengadilan datang menghampiri?

Bukan. Ternyata yang di tangan mereka bukan kitab undang-undang, melainkan Al-Kitab alias Bibel. Saya jadi tenang lagi.

"Are you Christian?" tanya salah seorang berjubah itu. "No, Sir, I’m a Moslem."

Tak jadi soal. Mereka tetap mendakwahi saya. Disuruh­nya saya membaca Bibel. Saya merasa ditodong. Buat me­reka, Bibel harus dibaca, sebab dunia ini rusak karena orang tak lagi membaca Bibel.

"Alangkah sepele sebab kerusakan dunia ini," batin saya.

"Di dalam kitab ini, kunci keselamatan ditemukan," kata Mr. Black yang brewokan itu. Saya jadi sedikit ngeri. Keadaan kelihatan­nya genting. Namun, saya akui, uraiannya terlalu simplis­tik. Saya jadi mengerti, mengapa teman lain yang punya pengalaman serupa menggerutu. Tahulah saya, mengapa banyak orang tak mau memberi mereka kesempatan bicara.

Saya beberapa kali mengunjungi sebuah masjid di LA, yang dulunya sebuah fitness center, namun kemudian bangkrut dan dibeli oleh komunitas muslim asal Bulgaria. Di mesjid itu, orang Bulgaria juga berju­bah hitam. Mereka mengenakan sepatu waktu salat. Biasa­nya, selesai salat, tiap jemaah dilempari tasbih. Tampaknya, ada petugas yang khusus. melempar-lempar.

Suasananya tenang sekali buat berzikir. Suatu ma­lam, di tengah kenikmatan zikir itu, seorang berjubah (yang nampaknya orang Timur Tengah) menjawil  saya.

"My brother, where are you from?" tanyanya. “Indonesia.”

Diajaknya saya bicara. Semangat brotherhood-nya besar. Dia bertanya alamat di Indonesia. Juga, alamat di LA. Bagi brother dari Mesir ini, dunia juga rusak, karena orang terlalu mementingkan materi.         

Di Amerika, misi yang dibawanya adalah "berjuang" mewujudkan tatanan Islami. Islam yang mana dulu fikir saya. Ia mengatakan, Islam itu sem­purna. Paling sempurna. Dan mudah. Sejauh orang menu­ruti jejak Kanjeng Nabi, hidup sudah beres. Tidak lupa pula, dia mengundang saya ke sebuah mesjid dekat Hollywood, di mana saya bisa bertemu para brother muslim dari berbagai penjuru dunia. Menyenangkan juga.

Saya ingat, di Tokyo, juga banyak saya jumpai brother berjubah dari Malaysia yang punya semangat seperti itu. Mereka ini ang­gota Jami’atul Tabligh. Semangat mereka hebat dalam mengajak orang Islam untuk menjadi lebih Islam. Mereka funda­mentalis.

Pandangan mereka juga simplistik. Password mereka mudah diingat: dunia sudah rusak, muslim lain hanya sekumpulan domba yang sesat, dan tidak sempurna ke­islaman kita kalau kita tak berjenggot seperti . mereka. Jadi, jenggot merupakan ukuran puritansi.

Sebaliknya  kalau sudah seperti mereka, hidup akan amat mudah. Salah seorang brother dari Malaysia ini meninggal­kan istrinya di Malaysia. Saya tanya, apa tak “payah” hidup jauh dari istri. Dia tegar menjawab: "Allah will provide."

Maksudnya, Allah akan menyediakan istri. Mereka mem­bolehkan nikah mut’ah. Ketika itu, saya tinggal di apartment yang mahal. Tapi, saya bilang, sulit mencari yang murah.

"Allah will provide," katanya lagi.

Tiap soal dijawab: "Allah will provide.”

Nah dua minggu lalu, di Jakarta. Setelah semua pasien sudah selesai saya periksa. Pintu kamar praktek saya diketuk. Dan, saya membukanya. Di de­pan pintu, tampak orang-orang berjubah. Mereka bukan orang-orang dari gereja, melainkan dari mesjid. Satu orang saya kenal, karena pemah bertemu di salah satu mesjid di Tanjung Duren. Mereka datang bersilaturahmi. Saya lega.

Namun, ketika mereka bicara bahwa dunia sudah rusak, saya jadi gelisah. Saya khawatir "khotbah" mereka berkepan­jangan. Syukurlah, mereka segera tancap gas.

Di Bandung. Seminggu yang lalu, saya bertemu dengan orang-orang berjubah juga, Mereka jemaah Darul Arqam. Sambil mengamati, saya mengaji bersama mereka. Bagi mereka, dunia juga sudah rusak, karena kita kena penyakit "cinta dunia".

Menurut mereka, sakit itu bisa diobati dengan tatanan Islami. Macam apa? Seperti contoh Kanjeng Nabi. Bagi mereka, jenggot dan jubah juga simbol keislaman.

Di mana-mana, orang bicara bahwa "dunia sudah rusak". Di mana-mana, orang bicara puritansi. Kritik saya seder­hana: mereka lupa membedakan agama dari kebudayaan. Arab dan Islam dicampur-aduk. Dikiranya, baru sah Islam kita kalau kita sudah "Arab". Mereka menolak iman yang tidak tampil dalam "wajah" Arab.

Kemarin malam, lebih unik lagi. Entah bagaimana muasalnya, di rumah saya, orang­ orang berjubah dari gereja dan dari mesjid datang bersamaan. Jadilah rumah saya gereja sekaligus mesjid. Pendapat mereka sama. Dunia sedang sekarat. Dan mereka mengklaim cara merekalah yang paling benar untuk mencapai keselamatan. Untung saja mereka tidak lantas berkelahi.

Saya tak setuju dengan pandangan  keagamaan mereka. Tapi, bagaimanapun, melihat semangat dan ketulusan me­reka, saya menaruh rasa hormat. Saya tetap berusaha bersikap baik. Sebab, siapa tahu kalau benar mereka ini “penyelamat” dunia, seperti Kanjeng Nabi Nuh AS saya bisa menum­pang selamat di perahu mereka.

Semoga hati kita selalu dilapangkan dan terbuka menerima keragaman yang merupakan rahmat-Nya.

Komoditas Politik

August 28th, 2008 by ryu-nuerosurgeon

 

 

Undzur maa qola, walaa tandzur man qola. Wisdom ini konon diucapkan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib. Yang intinya kita harus obyektif dalam menimbang sebuah pendapat. Mungkin tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa pendapat seseorang sangat dipengaruhi kepentingan pribadinya. Dengan kata lain sulit sekali seseorang itu dapat melihat secara obyektif sebuah permasalahan. Oleh karenanya ada baiknya kita lebih mempertimbangkan isi sebuah pendapat dari pada melihat siapa yang berpendapat.

Tepat sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan  tahun ini. Presiden mengumumkan “keberhasilan” kinerja pemerintahan yang dipimpinnya. Cukup menggembirakan. Dilaporkan bahwa angka kemiskinan turun bermakna. Artinya jumlah penduduk yang miskin berkurang. Atau dengan kata lain kesejahteraan penduduk meningkat bermakna.

Pertanyaan yang timbul kemudian adalah: atas dasar apa kesimpulan itu ditarik? Tentu saja pengumuman ini disampaikan bersamaan dengan angka-angka yang menjadi dasar asumsi di atas. Dan sudah jelas, hal ini dilihat dari sisi kacamata si penguasa.

Dari sudut pandang yang sangat berbeda, dan pola pikir yang tentu tidak sama, anak saya yang berumur empat belas tahun (usia dimana seorang anak cenderung protes atas segala sesuatu) mempunyai pendapat lain. Kata dia, “Apa nggak kebalik? Bukannya rakyat makin sengsara? Tahun lalu orang antri minyak nggak keliatan kok, sekarang antri sampai berhari-hari. Apa yang begini bisa dikatakan kesejahteraan meningkat? Bukannya makin merana?”

Sudah barang tentu kapasitas berpikir anak sekolah kelas tiga es-em-pe tidak akan pernah se-level dengan kemampuan analisa seorang presiden. Namun bisa saja pendapat itu berbeda lantaran perbedaan sudut pandang yang tidak sama.

Pendapat pemimpin negara, besar kemungkinan berlainan dengan pemikiran bocah cilik macam anak saya. Kacamata penguasa juga sangat berbeda (apa lagi) dengan kacamata wong cilik. Meskipun bocah cilik tidak sama dengan wong cilik;

Secara harfiah wong cilik artinya orang kecil. Maksudnya ialah mereka yang hidup sosio-ekonomis-politisnya ditentukan oleh pihak lain. Wongcilik adalah gambaran tradisi tentang pandita sekti (pendeta sakti) yang menyamar, mengaku sebagai wong gunung pancu, adoh ratu cedhak watu (orang gunung, jauh dari raja dekat dengan batu). Lha kalau fafsiran saya lalu menunjuk bahwa wong cilik jadinya adalah mereka yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan.

Dalam-dunia wayang, wong cilik adalah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong para punakawan yang setia mendampingi para satria utama dalam usaha menegakkan keadilan dan kebenaran. Kita tahu, Semar adalah dewa mangejawantah (manifestasi dewa) yang hidup di bumi, dan karena itu jika para satria bersikap tak senonoh terhadap Semar, mere­ka bisa kesiku, bisa kualat. Lakon-Iakon carangan menunjukkan hal itu.

Apakah ini artinya? Tak lain bahwa bila para satria pangembating praja (aparat pemerintah, termasuk para biro­krat) mengabaikan suara wong cilik, ,mereka pun akan de­ngan mudah tersungkur. People’s power, dengan kata lain, tak bisa diremehkan. Konsep kualat dalam masyarakat Jawa sebenarnya bisa merupakan salah satu mekanisme kontrol agar mereka yang di atas tak begitu saja melupakan kawulo di bawah.

Tapi, saya tidak tahu sejauh mana mekanisme itu ber­jalan. Saya cuma tahu kenyataan bahwa di masyarakat kita wong cilik itu masih diperlakukan seperti cah cilik (anak kecil), padahal mereka dudu cah cilik (bukan anak kecil).

Sebagai cah cilik tahunya diam, kalau masakan siap akan dipanggil, kalau malam cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi  dan kemudian bobo (tidur). Habis perkara. Artinya, wong cilik sebagai cah cilik “kodrat” kul­tural politisnya harus diam. Nggak boleh aneh-aneh!

Ada memang perkembangan menggembirakan sehubung­an dengan perlakuan terhadap wong cilik akhir-akhir ini. Kelihatan bahwa sekurang-kurangnya mereka makin berani menuntut hak dan mengadu ke DPR atau Komnas HAM, meskipun kita juga tahu bahwa hasilnya seringkali masih pada taraf “kami tampung”.

Dengan kata lain, wong cilik adalah mereka yang bila datang mengadukan nasib kepada para satria pangembating praja diterima baik-baik dan dijawab: laporan kami tam­pung!

Selanjutnya, saya kira, wong cilik adalah mereka yang jika nyolong ayam jelas ditindak tegas demi tegaknya rule of law. Tapi, bukan cuma itu. Wong cilik adalah juga para penyang­ga tegaknya piramida kekuasaan. Sebagai penyangga, posisi mereka di bawah, membungkuk, dan tak jarang penyok dalam arti sesungguhnya.

 

Wong cilik itu Semar yang sabar. Kelas menengah, yang berbondong rebutan masuk perguruan tinggi jelas mancal pundak (menginjak bahu) wong cilik yang rela dilewati. Dan bila golongan menengah berebut studi ke luar negeri untuk ambil gelar doktor, mereka jelas mancat di atas kepala wong cilik, yang secara hukum sebenarnya juga punya hak sarna.

Bila golongan menengah berpikir dengan sikap memihak terhadap wong cilik nasib mereka mungkin sesaat terangkat, tak pedu heran bila kemudian si wong cilik lalu jadi “komo­ditas internasional” dengan merek dagang “kemiskinan” atau “peningkatan kesehatan” yang akhirnya membuat para pedagang perantara hidup makmur tak kurang suatu apa.

Begitulah nada kehidupan wong cilik. Mereka tertinggal dari zaman ke zaman, tapi wong cilik tetap tabah menanti giIiran. Barangkali ini lantaran mereka kelewat percaya ke­pada konsep cokromanggilingan, yang menjanjikan bahwa hidup itu berputar dan bahwa wolak-waliking jaman (perubahan tatanan sosio-kultural-politik) akan memungkinkan mereka naik dan yang di atas bisa ke bawah.

Mungkin ada benarnya. Tapi, saya lebih percaya bahwa konsep cakro manggilingan itu sebenarnya merupakan ideologi kaum mapan untuk meninabobokkan wong cilik agar mereka sabar terus di roda bawah. So, ini adalah ideologi penindasan.

Maka, metafora kita tentang wong cilik jadinya lalu khas, berkonotasi merendahkan dan mengejek. Tentu kitaita masih ingat, di Jawa wong cilik itu diejek sebagai si cebol. Bila wong cilik menunjukkan punya ambisi, mereka langsung ditekan kebawah dengan ucapan: 0, si cebol nggayuh lintang (si cebol mau memetik bintang yang identik  dengan pepatah Indonesia si pungguk merindukan bulan). Jadi, itu suatu kemustahilan. Tapi, bila si cebol tadi benar-benar mampu nggayuh lintang (bisa naik tangga sosial), segera mereka akan dicemooh: sebagai Petruk dadi ratu (wong cilik yang bisa berkuasa) atau kere munggah bale yang arti harfiahnya ialah si jembel masuk balai.

Kedua paribasan (peribahasa) Jawa ini bisa saja merupa­kan sejenis self mockery (wong cilik menertawakan dirinya sendiri), tapi saya lebih senang memberi tafsir bahwa kedua­nya merupakan cermin diri sikap tak rela kelas elite jika wong cilik ikut-ikut menikmati kursi kekuasaan dan duduk sederajat dengan mereka.

Dalam bahasa Indonesia kita menggunakan metafora pe­landuk untuk menyebut wong cilik. Untuk menggambarkan nasib mereka, lahirlah peribahasa: gajah berkelahi sama ga­jah, pelanduk mati di tengah-tengah. Saudara serumpun kita, Malaysia, menyebut wong cilik sebagai rumput. Peri­bahasa mereka berbunyi: gajah bertarung rumput terinjak, gajah bercinta pun rumput terinjak. Kasihan banget ya si rumput ini.

Jadi, konsensus kultural kita tentang wong cilik ialah bah­wa mereka itu pihak yang dalam hidup nyata sebenarnya memang tak punya pilihan dan tak akan pernah punya pilihan. Konsensus politik kita berbunyi: tiap warga negara berhak menikmati pendidikan, berhak jadi ini jadi itu, dan bahwa keadilan sosial akan diperuntukkan bagi siapa saja tanpa pandang bulu.

Tahun  2007-2008 adalah tahun ketika segala hal serba mungkin, termasuk di Indonesia. Dunia menyaksikan per­ubahan-perubahan besar yang tiga atau empat tahun lam­pau masih tampak mustahil. Perubahan-perubahan besar itu memang tidak datang mendadak, bukan hujan yang jatuh dari langit. Semua terjadi berkat proses evolusionis. Maka, saya pun berharap, semoga perubahan besar terjadi juga dalam cara para penguasa memperlakukan wong cilik. Artinya, semoga wong cilik tak lagi terus-menerus cuma jadi obyek dan bulan-bulanan politik untuk pancatan naik tangga kekuasaan.

Peradilan

August 15th, 2008 by ryu-nuerosurgeon

Wajah media masa di tanah air kita memang selalu seragam. Nama Koran boleh berbeda, setasiun televisi boleh tidak sama. Namun kalau kita cermati, yang diberitakan nyaris tak ada perbedaan. Disamping menu utama yang berupa berbagai bentuk  berita gossip atau apapun namanya, kasus hukum juga jadi andalan.  Anggota DPR yang kepergok melakukan transaksi "haram" tapi masih ngotot berkelit. Jaksa Agung Muda yang ditangkap karena kedapatan melanggar hukum tapi dalam persidangan malah berlagak sebagai hakim. Pembalak liar yang divonis penjara tapi si tervonis menghilang entah kemana. Ada juga kasus  pembunuhan berantai yang mirip “Jack  The Ripper” tapi si tersangka diperlakukan bak selebritis!

Meskipun bagi banyak orang kasus-kasus diatas sudah cetha wela-wela, sudah jelas siapa yang bersalah. Namun tidaklah demikian bagi proses hukum, semuanya harus dibuktikan. Harus ada bukti yang kuat untuk menentukan bahwa seseorang dinyatakan bersalah atau tidak.

Nah masalahnya, dimata anak saya yang masih duduk di kelas 3 SMP, proses pencarian bukti itu terlalu berbelit-belit. Kata dia, ”Sistim peradilan di negara kita ini kan seorang hakim berhak memutuskan sesuatu berdasarkan keyakinannya apakah terdakwa bersalah atau tidak, meskipun bukti-buktinya tidak lengkap. Kenapa harus bertele-tele gitu sih.”

Saya tidak tahu dari mana anak perempuan saya mengetahui jenis-jenis sistem peradilan. Saya juga tidak terlalu yakin apakah pendapatnya itu salah ataukah benar. Namun bisa jadi banyak orang yang mempunyai pendapat seperti dia.

Entah mengapa saya lantas teringat akan cerita Ramayana dan drama almarhum Asrul Sani yang juga sudah dibukukan, berjudul Mahkamah.

Perang sudah lama berlalu. Mata Gunawan Wibisono menerawang jauh, hatinya gundah, pikirannya kalut dan jiwanya terguncang. Keyakinan akan  apa yang diperbuatnya selama ini menjadi semakin kabur dan sumir. Dia bertanya pada lubuk hatinya yang paling dalam. Sudah benarkah apa yang telah kulakukan selama ini? Apa tujuan semua ini?

Ketiga kakaknya, Rahwana, Kumbokarno dan Sarpokenoko telah mati. Kerajaan Alengka telah menjadi puing. Bala tentara kerajaan sisa tak lebih sepersepuluh jumlah sebelum perang terjadi. Kelaparan menimpa rakyatnya. Semua ini adalah buah dari keberpihakan Wibisono kepada Sri Rama Wijaya. Dia menghianati kakak-kakaknya, menghianati rajanya, menghianati negaranya, menghianati rakyatnya.

Dulu anak bungsu Resi Wisrawa ini merasa mempunyai pembenaran akan keputusannya menentang Rahwana., kakaknya yang berujud raksasa ini menculik Dewi Shinta. Dia merasa perlu untuk membela kebenaran dan melawan keangkaramurkaan.

Tapi setelah tujuh tahun perang berlalu. Dewi Shinta masih saja diasingkan didalam hutan. Sri Rama tak lagi percaya akan “kesucian” isterinya yang selama bertahun-tahun disekap Rahwana. Sekalipun sang isteri telah membuktikan kesetiaannya dengan cara masuk kedalam lautan api. Tapi itu semua tetap tidak bisa memulihkan kepercayaan sang suami yang juga titisan Dewa Wisnu ini.

Seperti  halnya cerita Mahabarata, kisah Ramayana-pun merupakan perlambang warna-warni kehidupan. Bahwa dunia kita  bukanlah hal yang hanya mempunyai dua warna, hitam dan putih. Ada jutaan warna dalam kehidupan ini

Wibisono merasa memiliki bukti, mempunyai alasan yang masuk akal dan latar belakang yang kuat sebagai pembenaran atas perlawanan yang diberikan kepada kakaknya. Namun lambat laun dia mulai ragu dengan semua yang dulu jadi pegangannya. Benarkah penghianatannya  kepada Rahwana itu murni demi membela kebenaran tanpa dikotori niat-niat yang lain.

Seperti juga manusia-manusia di jaman ini, Wibisono juga sedang mencari pembenaran diri, mendapatkan bukti sebagai pembela perbuatannya. Di masa ini alibi dan bukti merupakan senjata yang ampuh, syukur-syukur bukti itu merupakan bukti tertulis.

Dengan bukti tertulis itu orang bisa memperoleh kekuatan hukum yang sah buat menuntut, atau mengelak dari tun­tutan. Dalam dunia bisnis dan aneka transaksi resmi, status bukti tertulis sungguh tidak main-main. Bukti tertulis adalah simbol kekuatan hukum di tangan kita.

Bukti tertulis yang bisa menjadi saksi itu jadinya akan tetap mempunyai kekuatan hukum sekalipun ia palsu. Kecuali ada pihak yang mampu membuktikan kepalsuannya. Dan usaha pembukti­an ini sering kelewat susah.

Alasan yang masuk akal, latar belakang suatu tindakan yang jelas dan kuat hingga sesuatu bisa diakui kebenaran­nya, sebetulnya juga mempunyai kedudukan hukum seperti bukti tertulis. Dengan begitu, ada bukti tertulis fisik (berupa kertas) dan ada “bukti tertulis” nonfisik yang tak mengambil bentuk apa pun.

Dalam Mahkamah, dramanya yang bagus itu, almarhum Asrul Sani menunjukkan  kepada kita perihal bukti yang dipalsukan, namun status hukumnya tetap sah di mata sesama manusia. Seti­dak-tidaknya sah buat sementara, sebelum "bukti tertulis" ilahiah ikut bicara.

Syahdan, Mayor Syaiful Bahri menjatuhkan hukuman tembak pada Kapten Anwar, anak buah sekaligus sahabat karib­nya sendiri. Tuduhan resminya adalah berkhianat pada republik, ka­rena membelot, melawan perintah atasan. Kita tahu, dalam dunia militer pembelotan semacam itu memang layak dihu­kum tembak.

Ketegasan sikap sang Mayor, sebagai seorang komandan, sungguh menggetarkan. Ia dipuji sebagai seorang prajurit tulen. Komandan yang tak memihak, tak pandang bulu. Dan tak cengeng, mesti menghadapi desakan hati nurani­nya sendiri dalam menindak sahabat karib.

Ada memang yang berbisik-bisik di belakang, yang berbicara dengan suara lain. Tapi suara mereka sumbang. Dasar hukum (kata­kanlah "bukti tertulis") yang dipegang Mayor Bahri demikian kuat, dan sah, sehingga tak seorang pun berani menggugat, kecuali hati nuraninyh sendiri.

Seperti orang-orang yang hanya melihat dari luar, Mayor Bahri sendiri membiarkan hati nuraninya buta. Selama ber­tahun-tahun ia menikmati sukses hidup dan aneka pujian dari orang lain. Dan sekalipun sesekali hati nuraninya bi­cara secara jernih, mulut nuraninya ia bungkam. Jangankan orang lain, dirinya sendiri pun tak boleh tahu rahasia di balik penembakan anak buahnya itu.

Menjelang ajal, mayor itu tampak amat gelisah. Dalam drama ditampilkan sebuah sidang mahkamah di panggung, yang melibatkan malaikat dan saksi-saksi: Kapten Anwar (si korban), Murni (istri Mayor Bahri) dan prajurit Somad. Saksi-saksi itu mengungkap kenyataan sebenarnya bahwa meskipun pengadilan darurat yang menjatuhkan hukuman tembak bagi Kapten Anwar itu bersumpah demi Tuhan, demi negara dan bangsa, namun tiap tindakan akhirnya dinilai berdasarkan niatnya. Dan niat itu, yang selama ber­tahun-tahun tersembunyi rapat, sebenarnya bukan demi menegakkan hukum melainkan semata buat menyingkirkan Anwar. Dengan tersingkirnya anak buah itu Mayor Bahri bisa memperistri Murni, yang semula adalah pacar Kapten Anwar.

Sidang mahkamah ini bisa saja sekadar bersifat simbolik. Inti pokoknya ialah usaha membedah pengakuan jujur Mayor Bahri. Sebagaimana dinampakkan dalam naskah pengadilan atas perilaku Bahri cukup diserahkan pada Bahri sendiri untuk mengakui suara jujur hati nuraninya. Dengan kata lain, buat mencapai pengakuan semacam itu, jika bukan buat keperluan drama, kita tak memerlukanpanggung serta mahkamah.

Pesan moral yang dikandung dalam - drama Asrul ini ialah bahwa kita bisa menang perkara (keduniaan), kita bisa memiliki status hukum yang kuat karena "bukti tertulis" di tangan kita. Tetapi seperti disebut di atas bukti tertulis bisa saja palsu. Namun dengan sorot mata ilahiah yang mampu menembus rambu-rambu yang paling rapat sekalipun, segalanya telanjang di depan mata-Nya. Kebe­naran tidak bisa dibungkam karena kebenaran itu akan_menyatakan dirinya, bila waktunya telah tiba.

Barangkali benar, kita bisa menipu sebagian orang, tapi tak akan bisa kita menipu semua orang. Kita bisa menipu semua orang untuk waktu tertentu, tapi kita tak bisa me­nipu mereka buat selamanya. Katakanlah bisa juga kita menipu semua orang untuk selamanya, tapi kata "selama­nya" di sini relatif. Artinya selalu ada batas, yakni ketika kebenaran memperoleh hak menyatakan dirinya.

Pada saat seperti itu, "bukti tertulis" yang bisa untuk semen­tara menyelamatkan jasad kita akan lumpuh dengan sendrinya. Dan kita, tiba-tiba memerluka,n sejenis bukti tertulis yang lain. Bukti tertulis yang bisa menyelamatkan bukan saja jasad, melainkan juga ruh kita.

Sering kita kelewat terpesona oleh bukti tertulis yang mampu menggebrak meja hijau, memenangkan perkara, dan mem­pengaruhi banyak orang. Tapi kita lupa, bukti tertulis semacam itu sering tak langgeng. Dan Mahkamah-nya almarhum Asrul Sani, tam­paknya, telah tampil dengan bagusnya untuk menyuarakan pesan surgawi bahwa kita harus berhati-hati dalam memainkan bukti tertulis. Dia juga menampar kesadaran bahwa ternyata kita lebih sering  mencari pembenaran dan menyalahkan orang lain ketimbang melakukan introspeksi.

Ah… semoga keberanian mencari kebenaran selalu ada di jiwa kita.

Berbeda Tanpa Rasa Benci

July 4th, 2008 by ryu-nuerosurgeon

Isa Anshary dan D.N Aidit

Di atas podium seperti akan tikam-tikaman

Konstituante bagai terbakar panasnya perdebatan

Tapi sehabis sidang waktu makan siang

Mereka duduk berhadapan satu meja

Bercakap-cakap begitu wajarnya…

-by Taufiq Ismail

Penggalan bait syair diatas adalah salah satu dari sekian puluh ribu puisi karya -yang sangat saya hormati- Bapak Taufiq Ismail, berjudul “Berbeda Pendapat”. Dalam puisi tersebut merupakan bagian dari kumpulan puisi yang ada pada buku “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, intinya, menggambarkan adanya harmoni dari perbedaan pendapat, Bahwa perbedaan adalah rahmat bukanlah sekedar isapan jempol.

Pak Taufiq termasuk golongan manusia enam jaman, sejak jaman Bung Karno sampai era SBY, beliau ini sudah berkiprah. Bagi sastrawan sufi ini, tingkah polah manusia seperti kita-kita hanya akan menimbulkan reaksi sesungging senyum kecil. Tak lebih dan tak kurang.

Demikian juga dengan “kenakalan” sekaligus “kebodohan” kita dalam menyikapi sebuah perbedaan pendapat. Yang akhir-akhir ini tak jarang berakhir dengan tindak kekerasan dan saling memaki, layaknya makhluk yang tidak kenal kebudayaan.

Tak heran jika Mas Parni Hardi dalam Kongres Kebudyaan di Bali sebulan yang lalu mengatakan:”Saat ini masyarakat kita sudah dapat digolongkan sebagai masyarakat yang tidak beradab…” Nah lo, apa pasalnya?

Menurut  Mas Parni, sendi-sendi kehidupan bangsa kita sekarang ini sangat miskin toleransi. Tradisi adiluhung (nilai-nilai luhur) sudah luntur. Kebijaksanaan lokal tergerus oleh arus hedonisme. Identitas diri menjadi barang langka. Hasilnya, kecenderungan saling memangsa, homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Perbedaan pendapat sekecil apapun akan menjadi alasan yang cukup kuat untuk saling membenci, bahkan saling membunuh pun dihalalkan! Duh Gusti nyuwun gunging pangapunten. Tak bisakah kita berbeda pendapat tanpa saling membenci?

*****

Pada hari-hari ketika Kumbo Karno sudah merasa muak terhadap kehidupan keraton dan oleh karena itu ia me­nyendiri di Panglebur Gongso, di rumahnya, bersama Togog, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di keraton. Dia tak peduli.

Tetapi hari itu ketenangan negeri Alengka terasa men­curigakan. Suasana itu seperti dibuat untuk menyelubungi sesuatu. Naluri Kumbo Kamo mencium ada yang tak beres. Maka, disuruhnya Togog, abdi dalem, menyelidik.

Syahdan, Togog mampu menyusup ke sumber berita yang paling aktual, dan layak dipercaya. Siang itu, setelah sidang kabinet yang melelahkan membujuk Dasamuka agar mengembalikan Shinta, Gunawan Wibisono dikepruk de­ngan sepenggal besi oleh Dasamuka. Gunawan roboh, dan mati seketika.

Kematiannya dirahasiakan. Segenap kawula dan kadang sentana keraton yang ada di dalam bangunan gedung ista­na tak boleh keluar. Sebaliknya, yang di luar tak boleh ma­suk. Segenap pintu dijaga ketat demi kerahasiaan itu.

Kemudian, dengan cara siluman, jasad Wibisono dibuang ke laut. Dengan demikian, Dasamuka bisa bersikap seolah-­olah biasa, seolah-olah tak ada sesuatu yang terjadi.

Tetapi Kumbo Karno yang mendengar hal itu dari To­gog, menggeram. Suaranya menggelegar di langit. Langkah kaki raksasa sebesar gunung yang menahan marah itu mengguncangkan bumi Alengka. Dia menuntut balas.

Sambil menuju keraton Alengka, Kumbo Karno meng­obrak-abrik keindahan taman. Benteng dirobohkan. Beringin ditumbangkan. Alengka, pendeknya, bagai diterjang pra­hara.

Melihat amok adiknya itu, Dasamuka mengkirik. Memang benar dia sakti mahambara. Tapi Kumbo Karno pun bukan tan­dingan biasa. Dia bersembunyi. Disuruhnya patih Prahasta meredam kemarahan adiknya.

"Ingat, anakku, Kumbo Karno," bujuk Prahasta. Bumi bisa kau telan bila kau mau. Tapi lupakah engkau, anakku, pada kawulo cilik yang tak bersalah, yang juga bisa jadi korban kemarahanmu, jika kau tak mau mengendalikan diri? Badaniah, engkau memang raksasa, anakku. Tapi aku tahu, jiwamu satria sejati."

Kumbo Karno lilih dalam bujukan. Tapi sejak saat itu pula dia tak mau lagi melihat polah tingkah Dasamuka. Tak tega melihat kekejaman kakaknya, Kumbo Karno menying­kir. Ia bertapa tidur di Panglebur Gongso. Bertahun-tahun lamanya.

Orang menyebut Kumbo Karno seorang patriot. Dia salah satu contoh perilaku satria utama. Tapi ada pula yang menilainya pengecut. Dia satria yang rela mati konyol. Dan dia pun dianggap tak berbuat sesuatu melihat kejahatan merajalela di depan matanya. Tapa tidumya dianggap lam­bang sikap skeptis yang tak bertanggung jawab. Sikap yang bahkan sangat merugikan bangsa, dan negara, yang dia bela.

Kita tahu, dunia wayang itu pralambang. Dan segala bahasa yang digunakan di dalamnya adalah juga bahasa pralambang.

Tidurnya Kumbo Karno di situ tentu tidak harfiah berarti ia menggeletak di kasur dan enak-enak bermimpi. .

Bagi saya, tidur di situ artinya menarik diri dari kehi­dupan politik. Ia menyingkir. Menonaktifkan diri dari riuh ­rendah urusan kenegaraan yang ruwet. Dasamuka yang ekspansif, kolonial, dan mengagungkan superioritas diri, otomatis membuat Kumbo Karno yang berpijak pada ba­hasa moral, lelah secara badani dan jiwani.

"Terserahlah, kalau suaraku tak diperlukan," begitu arti tidumya. "Tapi tunggulah. Keruntuhan bakal menimpamu."

Dalam berbagai bentuk pemerintahan (apapun istilahnya) hal semacam ini sering kita dite­mui. Penguasa cuma mau mendengar suaranya sendiri. Atau suara siapa saja yang bersedia menjadi bayangannya, dan membuntut segala sikap dan tindakannya. Terhadap suara tandingan, penguasa macam itu bersikap anti. Pembungkaman, akibatnya, disistematisasikan. Penjara diperlebar. Kumbo Karno adalah pesakitan yang masuk penjara semacam itu.

Apakah beda Kumbo Karno dari Bung Hatta? Dua-dua­nya terpental atau mementalkan diri, dari pemerintahan yang tak mereka dukung. Dua-duanya kecewa melihat keadaan. Dua-duanya, akibatnya, lalu memilih jalan sepi. Dua-duanya satria yang melambangkan suara moral.

Bung Hatta, menjelang hari-hari akhir mitos dwitunggal, banyak dikecewakan oleh kebijakan dan sikap politik Bung Karno. Dan ketika keputusan mundur dari peinerintahan di tahun 1956 itu akhimya diambil, tokoh proklamator kedua itu berkata: "Setelah ikut serta dalam menjalankan tugas membangun bangsa dari atas selama sebelas tahun, saya ingin menyum­bangkan kekuatan saya dari bawah sebagai orang biasa yang bebas dari kedudukan apa pun."

Apakah Bung Hatta mutung (merajuk)? Saya rasa kok tidak. Tipe orang yang datar jiwanya dan rasional seperti Bung Hatta bukan tipe perajuk. Dia mengambil sikap dengan perhitung­an matang seorang negarawan.

Saya selalu memberi arti tindakan semacam itu sebagai suatu gerakan moral. Sebuah tindakan yang diambil ber­dasarkan pertimbangan jangka panjang, demi kepentingan bangsa dan negara. Dan bukan berdasarkan pertimbangan praktis, buat diri sendiri, kelompok atau partai politik di mana ia berafiliasi.

Seperti sikap Kumbo Karno terhadap Dasamuka, Bung Hatta pun bukan tak suka pada Bung Kamo secara pribadi. Hubungan Bung Hatta (dan keluarga) dengan Bung Karno (dan keluarga), konon baik-baik saja. Bung Hatta cuma tidak setuju dengan kebijakan politik Bung Karno.

Jarang orang yang bisa "membelah" diri seperti Bung Hatta itu. Dia tegas memisahkan yang pribadi dari yang resmi kenegaraan dan politik. Dan itu pula yang membuat Bung Hatta dihormati kawan dan disegani lawan-Iawan politiknya.

Ketika sejumlah tokoh disembelih PKI dalam tragedi 1965 dulu itu. Nama Bung Hatta sebenamya tercantum dalam daftar yang harus disingkirkan dan dibabat.

Tapi ketika sejumlah jasad menggeletak, Bung Hatta ma­sih selamat. Dan itu, kabamya, berkat keputusan mendadak Aidit: nama Bung Hatta dicoret dari daftar merah.

Kita tidak tahu mengapa Aidit mengambil keputusan itu. Padahal kita tahu, Bung Hatta gigih menangkal segala ge­rak politik PKI. Ia tergolong yang paling anti PKI. Tapi dugaan saya, seperti halnya dia anti terhadap sikap politik Bung Karno, sikap anti PKI Bung Hatta tak disertai rasa dendam, dengki dan sikap sejenis itu. Ia menolak tanpa menimbulkan permusuhan. Anti tanpa mengembangkan kebencian. Dan mengalahkan tanpa membuat orang yang kalah merasa hilang muka.

Seperti Kumbo Karno yang tak memberontak melawan Dasamuka, Bung Hatta tak berontak mengangkat senjata terhadap Bung Karno. Dan seperti Kumbo Karno, Bung Hatta pun memilih tapa tidur untuk memberi Bung Karno kesempatan merenung. Tapi di situ pula kelemahan gerakan moral, lawan politik kelewat enak dibiarkan dan diting­al tidur. Semakin bebas merajalela…

Bagaimanapun juga, semoga hati kita selalu dijauhkan dari segala macam kebencian…

Agama Baru dan Goro-goro

June 14th, 2008 by ryu-nuerosurgeon

Bila merujuk definisi agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebenarnya telah lahir “agama” baru yang sudah berusia kira-kira seabad. Dan saat ini boleh jadi pengikiut “agama” yang satu ini lebih banyak dari agama lain manapun. “Agama” ini bernama “sepak bola”.

Dalam dunia sepak bola ada aturan-aturan disepakati, ada hukuman bagi mereka yang melanggar aturan dan ada imbalan bagi mereka yang dilanggar (didzalimi). Ada banyak yang madzab yang dianut, total football-nya Belanda, samba-nya Brazil, tango-nya Argentina atau panser-nya Jerman, dan masih banyak lagi aliran yang lain

Pada saat penyelenggaraan Euro-2008 seperti saat-saat ini, ratusan juta bahakan mungkin milyaran penganut agama “sepak bola” ini seperti sedang mengadakan “ritual” secara bersama, pada saat yang sama, menghadap kiblat yang sama (mungkin televisi atai layar lebar khusus). Menyaksikan “dewa-dewa” pujaan mereka unjuk kebolehan.

Untung saja sepak bola tidak pernah didaftarkan ke Departeman Agama negara manapun sebagai sebuah agama atau keyakinan. Sehingga pengikut ajaran sepak bola tidak perlu khawatir dicap sebagai penganut aliran sesat.

***

Beberapa jam yang lalu, kesebelasan Bongso Walondo (Belanda) melumat Perancis dengan skor telak 4-1, setelah sebelumnya melibas Italia 3-0. Kebetulan saya menyaksikan pertandingan ini di sebuah kafe yang terletak di Jl Thamrin. Hingar bingar pendukung masing-masing kesebelasan tampak sangat menyenangkan.

Mereka seakan lupa keruwetan yang sedang terjadi di tengah mereka. Isu korupsi yang memang sudah kronis, konflik antar aliran dalam satu agama, harga-harga barang kebutuhan melejit tak terkontrol. Pendek kata mereka ini sepertinya sedang menjalani episode goro-goro.

Apakah yang akan terjadi, jika dunia wayang tidak mem­punyai goro-goro sebagai selingan di tengah malam itu? Pertunjukan kira-kira cuma akan berisi sidang-sidang resmi para raja dengan segenap kerabat dan kadang sentana kra­ton, perundingan bilateral untuk menyelesaikan konflik­-konflik, menentukan batas wilayah negara, latihan kemi­literan, perang, pembunuhan, intrik dan usaha saling me­musnahkan buat memuaskan ambisi politik masing-masing pihak yang terlibat dalam intrik tersebut.                                                                                                .

Alangkah mengerikannya. Dan betapa ganjil kehidupan dalam dunia semacam itu. Barangkali tak seorang pun di antara kita yang pernah memimpikan terciptanya tatanan hidup seperti itu.

Perang, tindak kekerasan dan pengerahan personil miIiter untuk saling membunuh yang bisa terjadi di zaman mana pun juga, selalu mengundang ketakutan dan rasa ngeri. Tentara sendiri pun, jika kelewat sering perang, mungkin juga akan menjadi bosan.

Apa yang akan terjadi jika dunia menolak kehadiran goro-goro, dan hidup kemudian cuma berisi sidang-sidang resmi, perundingan antara negara dan konflik-konflik, dan peperangan? Jika kehidupan seperti itu dilihat oleh sosiolog beken, Peter L. Berger, ia tentu akan mencibir sinis. Baginya, hidup tentu akan cuma jadi tumpukan fakta dan, data melulu,kering, tanpa humor, tanpa. kecenderungan tersenyum.

Peter Berger itu sosiolog yang kurang ber­bahagia dengan pendekatan serba angka dalam sosiologi. Maka ia pun menyuarakan pendekatan yang lebih manu­siawi. Ia mengajak para sosiolog untuk sesekali tersenyum.

Sulit bagi saya membayangkan hidup tanpa senyum. Na­mun bila hidup tanpa goro-goro saya sesali, soalnya tentu bukan karena lalu tak ada senyum itu. Bagi saya, hidup tanpa goro-goro cuma menjadi semacam usaha melang­gengkan otoritarianisme dan kemunafikan.

Semar,. Petruk, Gareng, Bagong, dalam goro-goro itu, membuat guyon. Orang Jawa menyebutnya guyon pari keno (gurau tapi mengena betul sasarannya). Kita menyebut goro-goro macam itu sebagai kritik.. Dalam tradisi kebu­dayaan politik Jawa, kritik wong cilik diterima, jika, per­tama, kritik itu dibungkus gurauan halus, dan bila jelas benar bahwa kritik itu memang tidak dilatarbelakangi tujuan-tujuan politis dan pamrih-pamrih tertentu.

Adakah orang yang melancarkan kritik tanpa pamrih seperti itu? Inilah persoalan yang selalu merunyamkan da­lam, misalnya, hubungan antara seniman dan pemerintah. Banyak orang percaya pada seniman yang saya hormati Om Rendra, misalnya ­bahwa ia memang tidak punya pamrih politik apa pun. Banyak orang percaya bahwa kritlk-kritik Rendra hanyalah goro-goro semata.

Rendra sudah menegaskan posisi sosial-politisnya. Seba­gai bagian dari kaum cendekiawan, Rendra menempatkan diri bukan di keraton, melainkan di atas angin. Kebutuhan hidup di negeri atas angin cuma satu: menjaga suara roh.

Guna menjaga keseimbangan antara roh dan badan itu­lah goro-goro dibuat. Tapi penguasa memang bukan seni­man. Penguasa khawatir terhadan apa yang disebut "dampak".

Dan harap maklum, bila dulu (mungkin juga sekarang) seniman dicekal, drama tak boleh dipertunjukkan, sajak tak bisa dibacakan, pertimbang­an pokoknya adalah dampak itu tadi.

Di zaman ini, mungkin kita tidak memerlukan seekor jago yang bisa memenuhi kodrat alamnya untuk berkokok.

Di zaman seperti ini mungkin bebek lebih cocok bagi kita.

Dengan begitu, kita bisa memilihkan telinga kita untuk hanya mendengar suara seragam: wek, wek, wek….

Suara itu menyenangkan. Dan serba baik. Di sana tak ada rasa khawatir akan timbulnya dampak. Tak ada sesua­tu pun yang mengacam.

Begitulah, kita buat juga goro-goro yang kita alih fungsi­kan. Goro-goro kita jadinya sarana penunjang program penguasa dan di jaman sekarang ini goro-goro hanyalah sebuah fragmen lakon yang isinya hanya lantunan tembang pilihan pengunjung

Nah jika goro-goro hanya melulu menyanyikan "lagu" pesanan kita seperti sekarang ini, yang terjadi ialah: ada suara yang hilang, pasti, yang tak lagi bisa kita dengar. Di sana tak lagi ada ketulusan. Yang ada cuma sejumlah kepentingan-­kepentingan terselubung, yang justru muncul tak terduga dari kalangan kita sendiri.

Selebihnya, mungkin cermin di depan kita pun takut memantulkan wajah kita yang sebenarnya karena cermin pun, tiba-tiba bisa bermain-main: pura-pura baik, pura-pura setia, pura-pura kawan. Selebihnya kita nampak kuat. Tapi mungkin keropos di da­lamnya.

Atau fragmen goro-goro dalam setiap pertunjukan wayang  jaman ini sebaiknya diganti dengan pertandingan sepak bola saja. Yang lebih tulus dan tak dibuat-buat. Yah… kecuali kalau sepak bolanya seperti sepak bola di tanah air kita yang pernah terkenal  dengan kejadian “sepak bola gajah” karena skandal pengaturan skor.

Yang seperti itu mungkin bisa disebut sebagai aliran sesat agama sepak bola.

Ah… ternyata masih saja kita menganggap sesat mereka-mereka yang tak sepaham dengan kita